BID’AHNYA PERAYAAN MAULID NABI [3]

BANTAHAN Terhadap Mereka Yang Membolehkan Perayaan Maulid Nabi

Fadhilatu asy-Syaikh al-‘Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah :

Mereka mengatakan:
Sesungguhnya perayaan Maulid Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ini adalah salah satu cara untuk mengungkapkan/menampakkan rasa cinta kepada beliau. Dan menampakkan kecintaan kepada beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah sesuatu yang disyariatkan!

Jawabannya, kita katakan:
Tidaklah diragukan bahwasanya kecintaan kepada beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- wajib atas setiap muslim, dengan kecintaan yang lebih besar daripada kecintaan kepada diri sendiri, anak, orang tua, dan manusia seluruhnya.

Namun, hal itu bukan berarti kita boleh membuat-buat amalan bid’ah yang  tidak pernah beliau syariatkan untuk kita.

Bahkan kecintaan kepada beliau memberikan konsekuensi bagi kita untuk MENAATI dan MENGIKUTI beliau. Karena sesungguhnya hal itulah di antara bukti terbesar kecintaan kepada beliau, sebagaimana disebutkan dalam sebuah sya’ir:

 Kalau seandainya kecintaanmu jujur, niscaya engkau akan mengikutinya…
Sesungguhnya orang yang mencintai itu kepada orang yang dicintai patuh…

Maka kecintaan kepada beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkonsekuensi untuk
▪ menghidupkan sunnah beliau,
▪ menggigit sunnah tersebut dengan gigi-gigi geraham, dan
▪ menjauhi segala sesuatu yang menyelisihinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Tidak diragukan lagi bahwasanya segala sesuatu yang menyelisihi sunnah beliau, maka itu adalah BID’AH yang TERCELA dan KEMAKSIATAN yang sangat tampak, dan diantaranya adalah perayaan Maulid Nabi ini dan yang selainnya dari perkara-perkara bid’ah.
Niat yang baik bukanlah dalih untuk membolehkan al-ibtida’ (membuat-buat bid’ah, pen) di dalam agama, karena agama Islam dibangun di atas dua prinsip utama:

  1. Ikhlas, dan
  2. mutaba’ah (mengikuti sunnah Nabi, pen).

Allah Ta’ala berfirman:

(بلى من أسلم وجهه لله وهو محسن فله أجره عند ربه ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون) البقرة:١١٢

“Bahkan barangsiapa yang menghadapkan wajahnya kepada Allah dalam keadaan dia berbuat ihsan, maka baginya pahala di sisi Rabbnya dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedia hati.”
(al-Baqarah: 112)

* Islamu al-wajh (Menghadapkan wajah, pen) adalah ikhlas kepada Allah, dan
* al-ihsan adalah al- mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah dan mencocoki as-sunnah.

Sumber:

WhatsApp Manhajul Anbiya

Sebarkan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *