PEMBUNUHAN TERHADAP DUTA BESAR NEGARA KAFIR, APAKAH DIBERBOLEHKAN DALAM ISLAM?

Itu merupakan perkara HARAM, bahkan SANGAT HARAM.

Nabi — shallallahu ‘alaihi wa sallam — bersabda :

(من قتل نفسًا معاهدا لم يرح رائحة الجنة)

“Barangsiapa membunuh jiwa seorang kafir mu’ahad maka dia tidak akan mencium aroma surga.” [ HR. al-Bukhari ]

al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, “Yang dimaksud adalah orang kafir yang dia ada perjanjian dengan kaum muslimin, baik dalam bentuk keharusan si kafir membayar jizyah, atau perjanjian damai (dengannya) oleh pihak penguasa, atau jaminan keamanan (untuknya) dari seorang muslim.” Fathul Bari, 12/259

~~~~~~~~~~~~~

asy-Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya :

“Sebagian pemuda menyangka bahwa kekerasan terhadap orang-orang kafir, baik mereka yang tinggal di negeri Islam maupun para duta/utusan resmi. Sebagian para pemuda itu menganggap halal membunuh dan menghabisi orang-orang kafir tersebut ketika mereka melihat kemungkaran dari orang-orang kafir itu.”

Jawab :

“Tidak boleh membunuh orang kafir yang tinggal/menetap atau utusan/duta yang telah dijamin keamanannya, yaitu telah diizinkan masuk oleh negara dengan aman. Demikian pula tidak boleh membunuh ahli maksiat dan menyerang mereka. Kemungkaran yang mereka lakukan diserahkan kepada hukum syariat. Mahkamah (Pengadilan) Syariat yang kalian lihat, itu sudah mencukupi.”

Tanya :

“Jika tidak ada pengadilan syari’at?”

Jawab :

“Jika tidak ada pengadilan syari’at, maka nasehat saja. Yaitu menyampaikan nasehat kepada pemerintah dan menyarankannya kepada kebaikan. Bekerja sama dengan pemerintah, agar mereka mau berhukum dengan syari’at Allah. Adapun seseorang yang memerintah atau melarang dengan tangannya, yaitu membunuh atau memukul maka ini tidak boleh. Namun hendaknya dia bekerja sama dengan pemerintah dengan cara yang baik supaya pemerintah mau memberlakukan hukum syari’at Allah terhadap hamba-hamba Allah. Kalau tidak, maka kewajiban dia hanyalah menyampaikan nasehat dan menyarankan kebaikan. Kewajibannya adalah mengingkari kemungkaran dengan cara yang lebih baik. Inilah kewajiban dia. Allah Ta’ala berfirman (artinya),

Bertaqwalah kalian kepada Allah sesuai kemampuan kalian.

Karena mengingkari kemungkaran tersebut dengan tangan, baik dengan membunuh atau memukul akan mengakibatkan kejelekan yang lebih banyak dan kerusakan yang lebih besar, ini tanpa diragukan lagi bagi barangsiapa yang telah berpengalaman dan mengerti permasalahan ini.”

Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 8/207

قال صلى الله عليه وسلم: (من قتل نفسًا معاهدا لم يرح رائحة الجنة). رواه البخاري

‏قال الحافظ ابن حجر: “والمراد به مَن له عهدٌ مع المسلمين سواء كان بعقد جزية أو هُدنة من سلطان أو أمان من مسلم”.

 

فتح الباري 12/259

سئل الشيخ ابن باز -رحمه الله-:

 

يظن البعض من الشباب أنّ مُجافاة الكفار مِمّن هم مستوطنون في البلاد الإسلامية أو من الوافدين إليها من الشرع، ولذلك البعض يستحل قتلهم وسلبهم إذا رأوا منهم ما يُنكِرون.

ج: لا يجوز قتل الكافر المستوطن أو الوافد المستأمن الذي أدخلته الدولة آمِنًا، ولا قتل العصاة ولا التعدي عليهم، بل يُحالُون فيما يَحْدُث منهم من المنكرات للحكم الشرعي، وفيما تراه المحاكم الشرعية الكفاية.

س: وإذا لم توجد محاكم شرعية؟

ج: إذا لم توجد محاكم شرعية، فالنصيحة فقط، النصيحة لولاة الأمور، وتوجيههم للخير، والتعاون معهم حتى يحكّموا شرع الله، أمّا أنّ الآمر والناهي يمد يده فيقتل أو يضرب فلا يجوز، لكن يتعاون مع ولاة الأمور بالتي هي أحسن حتى يحكّموا شرع الله في عباد الله، وإلا فواجبه النُّصح، وواجبه التوجيه إلى الخير، وواجبه إنكار المنكر بالتي هي أحسن، هذا هو واجبه، قال الله تعالى: {فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ} لأن إنكاره باليد بالقتل أو الضرب يترتب عليه شر أكثر وفساد أعظم بلا شك ولا ريب لكل من سبر هذه الأمور وعرفها. اهـ

مجموع فتاوى الشيخ ابن باز ج8 ص207

Sumber:

http://www.manhajul-anbiya.net

Sebarkan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *